TERNATE – Langit Halmahera Utara kembali diselimuti gumpalan abu vulkanik. Gunung Dukono, gunung api paling aktif di Indonesia, dilaporkan mengalami erupsi pada Sabtu (04/04/2026) sekitar pukul 11.08 WIT. Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dukono mencatat, lontaran abu kali ini mencapai ketinggian mencengangkan, yakni 1.400 meter di atas puncak.
“Saat ini, aktivitas vulkanik Gunung Dukono kembali meningkat, kami meminta warga untuk tetap waspada, ” ujar Bambang Sugiono, Petugas PGA Dukono, saat dihubungi dari Ternate, Sabtu (04/04/2026). Ia menambahkan, kolom abu yang membumbung tinggi memiliki warna putih hingga kelabu pekat, dan teramati condong ke arah barat daya, mengikuti jejak hembusan angin.
“Iya, erupsi tadi sekitar pukul 11.08 WIT dengan ketinggian kolom abu teramati mencapai 1.400 meter di atas puncak gunung, ” tegas Bambang dalam keterangan yang diterima di Ternate.
Tak hanya melalui pengamatan visual, getaran dahsyat erupsi ini juga terekam jelas oleh alat seismograf. Data yang berhasil dihimpun menunjukkan letusan dengan amplitudo maksimum 27 mm dan durasi sekitar 55, 07 detik. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa denyut nadi vulkanik Gunung Dukono masih berdetak kencang dan berlangsung secara periodik.
Dengan ketinggian 1.087 meter di atas permukaan laut, Gunung Dukono saat ini masih bertengger di Status Level II atau Waspada. Status ini bukan sekadar label, melainkan sinyal penting bahwa aktivitas vulkanik di gunung ini telah melampaui batas normal. Warga yang bermukim di sekitar gunung diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di area yang paling rentan.
Menyadari potensi ancaman, PGA Dukono telah merilis serangkaian imbauan krusial. Penduduk lokal dan para pelancong diingatkan untuk tidak nekat melakukan aktivitas apapun, termasuk mendaki atau sekadar mendekati Kawah Malupang Warirang. Jarak aman yang direkomendasikan adalah minimal 4 kilometer dari pusat erupsi.
Bambang mengingatkan, sifat erupsi Gunung Dukono yang fluktuatif menjadi tantangan tersendiri. Lontaran abu bisa terjadi kapan saja, dan sebarannya pun tidak bisa diprediksi secara pasti. “Mengingat letusan dengan abu vulkanik terjadi secara periodik dan sebarannya mengikuti arah angin, maka area landaan abu tidak tetap, ” jelas Bambang, menyoroti faktor angin sebagai penentu arah sebaran.
Di balik keindahan alamnya, abu vulkanik menyimpan ancaman serius bagi kesehatan, terutama bagi sistem pernapasan. Oleh karena itu, himbauan untuk selalu menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut sangatlah penting bagi siapapun yang beraktivitas di wilayah terdampak. Ini adalah langkah sederhana namun vital untuk mengurangi risiko terganggunya pernapasan.
Hingga berita ini diturunkan, tim PGA Dukono terus melakukan pemantauan intensif. Pemerintah daerah dan instansi terkait pun tak henti-hentinya berkoordinasi demi memastikan keselamatan seluruh warga serta menyajikan informasi terkini seputar geliat sang gunung.
“Dengan aktivitas erupsi yang masih berlangsung, masyarakat diharapkan tetap tenang namun waspada, serta mengikuti seluruh imbauan resmi dari otoritas terkait guna meminimalisir risiko yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas vulkanik Gunung Dukono, ” pungkas Bambang, menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap arahan resmi. (PERS)

Updates.